CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Jumat, 19 Desember 2008

keNapA ya pLastik itU berbaYaHaya?

Bahaya di Balik Plastik Kemasan Makanan BAGI sebagian besar orang, kemasan makanan hanya bungkus makanan dan cenderung dianggap sebagai "pelindung" makanan. Ketika suatu jenis makanan sudah berada dalam satu kemasan atau bungkus, biasanya orang menganggap makanan itu dalam status aman dan sehat. Padahal, pandangan seperti ini jelas-jelas keliru. Aman tidaknya makanan kemasan bergantung pada jenis bahan kemasannya. Sebaiknya mulai sekarang Anda cermat dalam memilih kemasan makanan. Ada begitu banyak bahan yang digunakan sebagai pengemas primer pada makanan, yaitu kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan. Akan tetapi, tidak semua bahan ini aman bagi makanan yang dikemasnya. Salah satu bahan kemasan yang harus diwaspadai adalah plastik. Mengapa? Karena bahan inilah yang paling banyak digunakan. Dan yang lebih penting lagi, tidak semua plastik bisa digunakan untuk wadah atau kemasan makanan maupun minuman. Ada sejumlah bahaya yang mengintip pada plastik. Sebagai kemasan Setiap hari kita menggunakan plastik, baik untuk mengolah, menyimpan, maupun mengemas makanan. Ketimbang kemasan tradisional seperti dedaunan atau kulit hewan, plastik memang lebih praktis dan tahan lama. Meski demikian, di luar sifatnya yang praktis, plastik tetap punya kelemahan, tidak tahan panas dan dapat mencemari produk akibat migrasi komponen monomer yang akan berakibat buruk terhadap kesehatan konsumen. Selain itu, plastik juga bermasalah untuk lingkungan karena merupakan bahan yang tidak dapat dihancurkan dengan cepat dan alami (nonbiodegradable). Plastik dibuat dengan cara polimerisasi yaitu menyusun dan membentuk secara sambung-menyambung bahan-bahan dasar plastik yang disebut monomer. Misalnya plastik jenis polivinil chlorida (PVC) sesungguhnya adalah polimer dari monomer vinil klorida. Di samping bahan dasar berupa monomer, di dalam plastik juga terdapat zat nonplastik yang disebut aditif yang diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat plastik itu sendiri. Bahan aditif tersebut berupa zat-zat dengan berat molekul rendah, yang dapat berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap sinar ultraviolet, antilekat, dan masih banyak lagi. Kemasan plastik mulai diperkenalkan pada tahun 1900-an. Sejak itu perkembangannya sangat cepat. Sesudah Perang Dunia II, diperkenalkan berbagai jenis kemasan plastik dalam bentuk kemasan lemas (fleksibel) maupun kaku. Beberapa jenis kemasan plastik yang dikenal antara lain polietilen, polipropilen, poliester, nilon, dan vinil film. Bahkan selama dua dasawarsa terakhir, pangsa pasar dunia untuk kemasan pangan telah direbut oleh kemasan plastik. Timbul suatu pertanyaan, mengapa plastik begitu banyak dipakai? Plastik memang mempunyai beberapa keunggulan sifat, di antaranya kuat tetapi ringan, tidak berkarat, sifat termoplastis (bisa direkat menggunakan panas), dapat diberi label atau cetakan dengan berbagai kreasi, dan mudah diubah bentuknya. Sebagai bahan pembungkus, plastik dapat digunakan dalam bentuk tunggal komposit atau multilapis dengan bahan lain, baik antara plastik dan plastik yang beda jenis, plastik dan kertas, maupun dengan yang lainnya. Kombinasi tersebut dinamakan laminasi. Dengan demikian, kombinasi dari berbagai jenis plastik dapat menghasilkan ratusan jenis kemasan. Jenis berbahaya Selain mempunyai banyak keunggulan, ternyata kemasan atau wadah plastik menyimpan kelemahan, yaitu kemungkinan terjadinya migrasi atau pindahnya zat-zat monomer dari bahan plastik ke dalam makanan, terutama jika makanan tersebut tak cocok dengan kemasan atau wadah penyimpanannya. Pada makanan yang dikemas dengan kemasan plastik, adanya migrasi ini tidak mungkin dapat dicegah 100 persen. Migrasi (perpindahan) monomer terjadi karena dipengaruhi oleh suhu makanan atau penyimpanan dan proses pengolahannya. Semakin tinggi suhu tersebut, semakin banyak monomer yang dapat bermigrasi ke dalam makanan. Demikian juga dengan lamanya makanan tersebut disimpan. Karena, semakin lama waktu kontak antara makanan tersebut dan kemasan plastik, jumlah monomer yang bermigrasi dapat makin tinggi jumlahnya. Monomer atau aditif plastik apa saja yang perlu diwaspadai? Memang tidak semua, hanya beberapa, seperti vinil klorida, akrilonitril, metacrylonitril, vinylidene klorida, dan styrene. Monomer vinilklorida dan akrilonitril cukup tinggi potensinya untuk menimbulkan kanker pada manusia. Vinilklorida dapat bereaksi dengan guanin dan sitosin pada DNA, sedangkan akrilonitril bereaksi dengan adenin. Vinilasetat telah terbukti menimbulkan kanker tiroid, uterus, dan lever pada hewan. Akrilonitril menimbulkan cacat lahir pada tikus-tikus yang memakannya.

0 komentar: